Sarjana karena Lunas
Sanur, 12 September 2011…
Senin ini rasanya beda dari biasanya. Banyak pelamar kerja berdatangan ke kantor sejak iklan lowongan desainer grafis dipasang. Semua dari mereka bergelar S.Sn. Sebuah gelar S-1 yang gagal kuraih…
Pintu diketuk dan ritme senyum hambar yang diumbar membuatku makin tak bergairah menyambut pelamar kesekian kalinya dalam tempo sehari. Stereotipe memang menyebalkan.
Tanpa mengenalkan diri, sebuah stofmap kertas berwarna pucat cap Sabang Merauke hingga Tapir Terbang disodorkan. Tak jauh beda dengan awal-awal bulan saat aku dan istri menempati rumah baru di bilangan Maguwoharjo - Jogja, tujuh tahun lalu. Beragam permintaan sumbangan menyambangi kami tanpa perkenalan, hanya sodoran stofmap bermerek sama sebagai isyarat.
Mungkin sekarang ada puluhan stofmap bermerek sama terjepit satu dengan lain di deretan laci terbawah. Tak ada unsur menariknya. Semua diketik dengan alur yang sama. Seolah memang demikianlah kampus-kampus mahal ini mengajari mereka. Datar.
Pun mereka tak bicara jika tak ditanya. Sibuk menyeka keringat di dahinya, lalu sesekali mengeluarkan bunyi, “ehem.” Sanur memang terasa panas setiap kemarau tiba. Tapi semestinya tak menghalangi niat mengenalkan diri, kan?
Portfolio hasil kerja keras studi selama 3-4 tahun yang disisipkan di halaman terakhir setelah aneka fotokopian sertifikat seminar, semakin mengisyaratkan mereka tak cukup bangga dengan buah karyanya sendiri. Kebanyakan dicetak inkjet diatas HVS tipis 70gsm dan beberapanya berupa CD generik berlabel GT-Pro dibungkus plastik bening tanpa penjelasan apa-apa. Paling hanya ditulis spidol permanen.
Ada juga yang nekat bermodal flashdisk dan meminta dicolokkan, lalu dengan ringannya menyuruhku membuka file Resumé di dalamnya. Akan lucu nantinya bila dalam Resumé ada kata professional. Aku cuma tersenyum getir memandangi flashdisk mini berdaki ini tanpa menyentuhnya.
Inikah presentasi terbaikmu dari gelar S.Sn?!
Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi sih yang akan bangga pada karyamu? Orang lain? Jika jawabannya memang harus orang lain, apa ada jawaban selain pedagang kacang goreng?! Ayo, tampar dirimu 13x dan sadari!
“Ah! Barangkali akan berbeda ceritanya bila mereka mau berpikir sedikit saja untuk meletakkan portfolio di lampiran terdepan dan mengganti stofmap kumal ini dengan bentuk lain yang lebih mahal Rp1.000,- saja,” gumamku cetus.
Nyaris semua portfolio mereka menggarap sesuatu yang sungguh sulit dibedakan dengan pekerjaan jasa setting pinggiran. Diakhir kejenuhan akan stereotipe ini, tiga pertanyaan sederhana selalu kulontarkan.
“Boleh tahu cita-citamu?”
“Apa keunggulanmu dibanding orang lain?”
“Coba beri tahu saya bedanya Anda yang S-1 dengan desainer pinggiran?”
Raut wajah bingung dan gelagapan menghiasi mereka. Ada rasa kasihan sebetulnya. Tapi ini ‘kan bicara pekerjaan. Bicara tantangan, hak dan kewajiban di dunia kerja sungguhan. Apalagi untuk profesi desainer grafis. Design yourself at first —paling tidaknya. Baik berdandan yang pantas, juga menyiapkan diri yang pas.
Di Jakarta sana, hal seperti ini sudah tentu dilempar ke tong sampah terdekat.
Bukan. Kita bukannya sedang tak menghargai Anda.
Tetapi Anda-lah yang tidak menghargai diri Anda sendiri.
Jangan pernah mengeluh ini tak diajari di kampus!
Syukurilah kesempatanmu mampu lulus wisuda, bisa menyenangkan orangtua yang melunasi tagihan SKSmu, dan hebatnya, punya kesempatan menjadi dirimu sendiri. Semua berkat Tuhan ini tak mampu dibeli kembali dengan apapun!
Berterimakasihlah atas kuasaNya hanya dengan berusaha lebih giat, lebih, lebih, dan lebih semangat lagi. Karena ini semua tentang dirimu, masa depanmu…
Sekarang, coba breakdown modal yang dibutuhkan membuat portfolio bagus. Tak lebih dari ongkos nonton bareng pacar di bioskop, bukan?
Yuk, dimulai dari sekarang?
