Logo

Madewira

  • Home
  • Design
  • Photography
  • Journal
  • Bisnis
  • Tips
  • Archive
  • RSS

Jawaban Itu…

Jogja, 19 Juli 2009

Detik-detik terakhirku menjelang kepindahanku ke Bali. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti total bekerja freelance, berhenti bekerja dengan jam terbalik. Aku merasa, tubuh ini kian sakit untuk mendobrak pakem yang sudah diciptakan beratus-ratus tahun, apalagi bertahan menghancurkan mitos bahwa malam adalah waktu teristimewa untuk istirahat.

Belum lagi tak ada manusia yang mampu diajak sekedar ngobrol ketika jarum jam melewati angka 12 malam. Perlahan, beban ini mulai mengoyak psikis. Aku menjadi lebih pendiam, merasa asing di lingkungan sendiri, walau rejeki dicukupkan olehNya. Namun apa gunanya, pikirku.

Bukankah semua terasa indah dan berarti jika kita mampu menjadi seimbang?
Kepada diri sendiri, keluarga, sahabat dekat, bahkan lingkungan.

—— 

Sanur, 24 Desember 2011

Rintik hujan malam ini tak sebanyak biasanya. Ini malam ke-5 dimana aku tetap terjaga didepan layar kerja untuk menyiapkan remeh-temeh launching situs eCommerce klienku dari Illinois, US. Perbedaan jam kerja memang terasa berat. Terutama saat pagi menjelang, dimana orang-orang berpacu menuju tempat kerja, aku justru berperang melawan kantuk yang menyerang mataku.

Hingga aku tersadar akan janjiku 3 tahun lalu dan kegagalanku menepatinya.

Jarum jam masih berkutat di angka 22:30. Sepertinya tak ada satupun tempat di Bali yang mengijinkanmu duduk sendiri, melihat dirimu sendiri dari sudut pandang berbeda, tanpa tagihan yang mencekik leher. Deru knalpot, riuh klakson, hingar bingar hiburan malam, parfum palsu wanita penghibur berputar-putar sempurna di kepalaku.

Motor ini kubawa ke seputaran jalan Sedap Malam, Denpasar. Iya, sepanjang jalan ini memang marak kafe remang diantara hijaunya sawah yang mulai dikikis perumahan. Tapi bukan, bukan itu yang kucari. Aku hanya mencari tempat menyendiri saja di sebuah kedai. Mendengar jangkrik, kodok, riak air pematang sawah, dan tembang lawas dari stasiun-stasiun radio yang lama tak kudengar.

Senyum ramah pemilik kedai menyambutku hangat. Mengajakku bercerita. Panjang. Sepertinya telah saling mengenal sekian lama. Padahal baru kali ini aku berbincang langsung dengan Pak Yasa.

Photo from net.Hingga tak terasa pitcher arak kedua menyambangiku lagi. Kedai ini memang menjual racikan minuman arak khas Bali dengan sentuhan berbeda bagiku. Bersih, juga gurih.

Beliau bercerita begitu mengalir tanpa aku tanyakan. Mengalir seperti riak air sawah di depan kedai bambunya.

“…9 tahun lalu orang-orang bahkan keluarga saya sendiri pun mencibir usaha saya ini,”

Begitulah Pak Yasa mulai mengisahkan perjalanan usahanya yang dimulai setelah beliau mundur dari resto ternama di sebuah Hotel kawasan Legian, Kuta.

“Gagal itu biasa bagi saya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah selalu berusaha…” ucapan beliau ini terasa melonggarkan urat-urat yang lama mencengkeram otakku.

“Kalau memang sekedar mencari untung, jujur saya ini pasti sudah bangkrut 7 tahun lalu. Saya sadar apapun bisnis, harus ada nilai LEBIH. Jangan tanya berapa uang saya. KOSONG. Tapi melihat bagaimana karyawan disini senang, bisa bertahan hidup, membiayai keluarganya, itulah kebahagiaan TERBESAR saya berbisnis.”

“Walaupun kita ini mampu membuat ini-itu, tapi tanpa adanya KERENDAHAN HATI yang menyertai, semua itu tak berarti. Apa yang membuat orang-orang PERCAYA kepada kita, bukanlah skill, bukanlah omongan. Tapi kerendahan hati. Keikhlasan.”

“Saya bisa saja kaya dengan jadi calo tanah, jual rumah, properti. Tapi apa karya saya di dunia jika ditanya di akhirat kelak. Saya tidak mau seperti itu. Bukan kekayaan seperti itu yang kita cari di dunia ini.”

“Hidup adalah untuk berkarya. Mengukir sebuah karya yang bernilai bagi orang lain, berguna bagi mereka yang kita tinggalkan kelak, dan bermanfaat bagi kehidupan.”

“Rasa takut itu selalu ada. Bagaimana kalau besok saya tak mampu menggaji mereka, bagaimana kalau, dan berjuta kalau-kalau lainnya. Itu wajar. Tapi justru itulah MOTIVASI. Keyakinan kita, konsistensi kita, semua diuji disana. Tekad kita adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup.” ujarnya dengan nada lembut tapi kok terasa menggelegar di telingaku.

Aku begitu terhenyak malam itu dibawah bohlam yang bergoyang-goyang tertiup angin. Persis seperti aku yang menyala oleh energi yang meresap ke telingaku.

Jawaban-jawaban itu nyata hadirnya, doaku seolah terjawab. Rasanya ingin berteriak terimakasih sekencang-kencangnya kepada Tuhan yang telah memberikan jawabanNya melalui seseorang yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Sekarang, setelah semua ini, saya justru kehilangan rasa senang, pak. Saya tak tahu lagi hal apa yang membuat saya senang di dunia ini. Semua terasa datang dan hilang.” ujarku pada beliau.

Pak Yasa hanya tersenyum dan berlalu membereskan kedainya yang sudah harus tutup di jam 00:30.

“Nanti saya undang ke tempat meditasi saya di Amed, Karangasem.” jawabnya singkat.

Dan malam itu aku beranjak pulang membawa pencerahan baru. Bergegas mengucap syukur padaNya tanpa terasa air mata meleleh bersama rintik hujan di pelataran merajan kecil rumahku.

    • #blog
  • 2 months ago
  • Comments
  • Permalink
  • Share
    Tweet

Recent comments

Blog comments powered by Disqus
← Previous • Next →

About

Avatar Made Hendra Wirawan. I'm Designer and Lifestyle Photographer based in Bali, Indonesia. Co-founder of a creative agency in the heart of sunny village in Sanur.
Follow @madewira

Me, Elsewhere

  • @madewira on Twitter
  • Facebook Profile
  • madewira on Foursquare
  • madewira on Gowalla
  • Google
  • madewira on github

Following

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Mobile

© Made Hendra Wirawan. Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr