Tantangan Wirausaha
Menyukai suatu pekerjaan dan memiliki semangat positif untuk meneruskannya ke jenjang usaha adalah satu modal wajib bagi mereka yang tertarik terjun menjadi wiraswasta.
Dan tantangan yang paling menarik adalah ketika bisnis kita berada pada level 0: baru start. Apapun bisnisnya pastilah akan membutuhkan tenaga karyawan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan.
Istilahnya, kita membuat kotak, kok kita terjebak nggak bisa keluar; alias kita sendiri yang bekerja selamanya disana —Jelas nggak mungkin toh? Bukankah bisnis yang sehat itu bisnis yang tumbuh dan berkembang luas?
Nah, kecenderungan yang terjadi di kalangan generasi muda selepas meninggalkan bangku sekolah, mereka justru memilih bekerja pada perusahaan yang sudah punya nama. Ini bukan tanpa alasan yaa. Jujur saja, tanyalah diri sendiri sebelum orang bertanya, “Anda kerja dimana sih?”
Ada rasa prestise tentunya kala menyebutkan, Centro misalnya. Indosat, Gramedia, atau minimarket waralaba semacam Circle K. Sedangkan kita yang wiraswasta mungkin masih risih menyebutkan nama kantor sendiri karena ujung-ujungnya ditanya “apa, dimana, ngapain aja?”
Jika kita sendiri sudah seperti itu, gimana nasib karyawan kita kelak?
Sebagai pemilik merangkap pekerja, seringkali kita sibuk turun tangan ikut mengerjakan langsung. Dan tak sempat bahkan lupa membuat prosedur-prosedur kerja tertulis sebagaimana perusahaan besar yang memiliki divisi khusus SDM.
Sebut saja Standar Operasional Prosedur (SOP), aturan, training, dan sistem reward atau penghargaan.
Dalam perusahaan besar misalnya, mereka punya banyak teman, mereka punya supervisor yang memperhatikan mereka; menuntun mereka, ada level & tingkatan jabatan, pun pekerjaan yang dihasilkan sifatnya visible.
Bandingkan dengan bekerja pada perusahaan yang masih baru start. Jangankan teman bicara, terkadang kerja keras mereka seringkali tak terlihat di mata pemilik. Juga jam kerja yang tak tentu ditambah lagi minimnya penghargaan. Banyak hal yang mendorong para tenaga muda enggan tertarik perusahaan bau kencur.
Saya enggak jelekin usaha kita ini dengan perusahaan raksasa itu tadi.
Saya percaya kok setiap bisnis itu unik. Yakinlah…
Padahal, prosedur-prosedur tertulis itulah yang membuat para karyawan termotivasi. Pada dasarnya semua orang menyukai tantangan. Tak ada satupun manusia yang menyukai suasana bosan.
Terlepas dari berbagai dokumen prosedur tersebut, ada hal lain yang patut kita perhatikan juga. Misalnya kebutuhan refreshing.
Jalan-jalan bersama ke suatu tempat sembari sosialisasi rencana bisnis atau aturan baru akan terasa mengasyikkan. Mereka akan lebih antusias ketimbang duduk di tempat yang sama dan dijejali ragam aturan.
Tak ada salahnya menyisakan sedikit pos untuk kebutuhan hiburan.
Meskipun kecil, baru lahir, kalau menyenangkan tentu banyak yang ingin bergabung membangun usaha bersama-sama dan walhasil bangga berada didalamnya. Kini saya tengah berusaha menaklukan tantangan SDM ini. Selangkah demi selangkah.
Salam sukses!
