Sayup-sayup tercium aroma hangatnya arang saat sejumput nasi berbalut koran bekas bergegas kubuka sembari melempar senyum seadanya pada bapak yang tengah mendorong becak bermuatan penuhnya menuju pasar Beringharjo. Malam itu tubuhku begitu letih dan lapar usai tugas menggambar poster dari kampus yang sekaligus menguras isi dompet kuselesaikan. Lahap kuhabiskan nasi itu. Giliran kantuk menderaku. Dan sang bapak pemilik angkringan masih terjaga mencuci satu-persatu gelasnya ditemani alunan slendro gamelan dari radio tuanya.
Sekali lagi bunyi gula batu beradu gelas kaca terdengar. Namun kini suara itu membangunkanku, menyadarkanku ternyata aku tak lagi duduk di angkringan itu.
Ooh… dan malam ini kangenku pada Jogja tumpah lagi untuk kesekian kalinya :(

