Lowongan Kerja di Bali
Lowongan Kerja di Bali pada sebuah perusahaan berkembang di bidang marketing, desain grafis, dan fotografi. Selengkapnya…
Source: zoombali.com
Membidik Tren Bisnis 2011
Nggak ada salahnya nih menjelang long weekend kali ini kita bersantai sejenak, memprediksikan tren bisnis di 2011. Dan ada satu hal yang cukup mencuri perhatian saya akan perilaku konsumen di Indonesia, yaitu: Gengsi & Status Sosial.
Yaa namanya gengsi tentunya nggak jauh-jauh sama barang mahal dan berkelas. Tapi justru bukan barang mahal ini yang ngganjel di pikiran saya. Malah, barang tiruannya atau yang lumrah disebut dengan istilah ‘KW’.
Nah syukurnya masalah gengsi ini masih erat kaitannya dengan status sosial. Jadi ada kecenderungan menelan korban mode bagi yang kepengen ‘naik status’ secara instan atau minimal dilirik orang lah. Dari sisi marketing & bisnis, ini jelas suatu hal yang menarik.
Tantangan Wirausaha
Menyukai suatu pekerjaan dan memiliki semangat positif untuk meneruskannya ke jenjang usaha adalah satu modal wajib bagi mereka yang tertarik terjun menjadi wiraswasta.
Dan tantangan yang paling menarik adalah ketika bisnis kita berada pada level 0: baru start. Apapun bisnisnya pastilah akan membutuhkan tenaga karyawan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan.
Istilahnya, kita membuat kotak, kok kita terjebak nggak bisa keluar; alias kita sendiri yang bekerja selamanya disana —Jelas nggak mungkin toh? Bukankah bisnis yang sehat itu bisnis yang tumbuh dan berkembang luas?
Nah, kecenderungan yang terjadi di kalangan generasi muda selepas meninggalkan bangku sekolah, mereka justru memilih bekerja pada perusahaan yang sudah punya nama. Ini bukan tanpa alasan yaa. Jujur saja, tanyalah diri sendiri sebelum orang bertanya, “Anda kerja dimana sih?”
Ada rasa prestise tentunya kala menyebutkan, Centro misalnya. Indosat, Gramedia, atau minimarket waralaba semacam Circle K. Sedangkan kita yang wiraswasta mungkin masih risih menyebutkan nama kantor sendiri karena ujung-ujungnya ditanya “apa, dimana, ngapain aja?”
Jika kita sendiri sudah seperti itu, gimana nasib karyawan kita kelak?
Kamu belajar ilmu bisnis itu bukan untuk kaya. Tapi supaya kamu makin pintar mengelola bisnis biar tokomu makin besar. Bisa melayani umat lebih banyak, menyebarkan kebaikan, dan membagi rejeki pada karyawanmu. Soal urusan rejekimu, itu urusan Gusti Allah. Bukan urusanmu!
