R.I.P Bli Wayan ‘monyok’ Merta
Jawaban Itu…
Jogja, 19 Juli 2009
Detik-detik terakhirku menjelang kepindahanku ke Bali. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti total bekerja freelance, berhenti bekerja dengan jam terbalik. Aku merasa, tubuh ini kian sakit untuk mendobrak pakem yang sudah diciptakan beratus-ratus tahun, apalagi bertahan menghancurkan mitos bahwa malam adalah waktu teristimewa untuk istirahat.
Belum lagi tak ada manusia yang mampu diajak sekedar ngobrol ketika jarum jam melewati angka 12 malam. Perlahan, beban ini mulai mengoyak psikis. Aku menjadi lebih pendiam, merasa asing di lingkungan sendiri, walau rejeki dicukupkan olehNya. Namun apa gunanya, pikirku.
Bukankah semua terasa indah dan berarti jika kita mampu menjadi seimbang?
Kepada diri sendiri, keluarga, sahabat dekat, bahkan lingkungan.
Bali saat ini ibarat konser musik kelas dunia. Kita tengah diangkat-angkat, riuh. Tinggal menunggu jatuh dan dihempas dari pulau sendiri tanpa kemampuan bangkit kembali.
Gili Trawangan, 30 September 2011…
Berkelana dari Jogja, Semarang, Bali, hingga Lombok, akhirnya sandal lusuhku ini putus dan menyerah di keranjang flip-flop basket depan Villa Julius, Gili Trawangan.
Aku dan sebagian orang lainnya percaya. Meninggalkan barang kenangan akan membuatmu kembali lagi kesana suatu saat nanti. Lagipula, siapa sih yang nggak mau ke Gili?
Tempat dimana kamu bisa kembali bebas tanpa lepas tanggung jawab, dan menemukan lagi siapa dirimu yang hilang tenggelam rutinitas.
Flip-flop recycle ini contoh kecil tanggung jawabmu menjaga alam dan berbagi pada sesama. Dan serunya, ada rasa malu kalau buang sembarangan disana.
Sebuah rasa yang sudah terlanjur sulit untuk tumbuh di Bali…
Sarjana karena Lunas
Sanur, 12 September 2011…
Senin ini rasanya beda dari biasanya. Banyak pelamar kerja berdatangan ke kantor sejak iklan lowongan desainer grafis dipasang. Semua dari mereka bergelar S.Sn. Sebuah gelar S-1 yang gagal kuraih…
Pintu diketuk dan ritme senyum hambar yang diumbar membuatku makin tak bergairah menyambut pelamar kesekian kalinya dalam tempo sehari. Stereotipe memang menyebalkan.

